MUNA – Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di SMAN 1 Kontunaga tahun ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Sekolah tersebut berupaya menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan.
Di bawah kepemimpinan Kepala SMAN 1 Kontunaga sekaligus Ketua PGRI Cabang Khusus Kabupaten Muna, La Ode Nazirun, S.Pd., M.Pd., nilai-nilai Pancasila ditanamkan melalui berbagai pembiasaan yang membentuk karakter peserta didik.
Mulai dari doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, membangun budaya gotong royong, hingga menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah keberagaman warga sekolah.
Kepala SMAN 1 Raha Ahmad Jaya Adi Pimpin MKKS SMA Kabupaten Muna Lewat Pemilihan Demokratis
Bagi SMAN 1 Kontunaga, pendidikan karakter tidak cukup hanya disampaikan melalui teori di dalam kelas. Nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari sehingga sekolah menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bermartabat bagi setiap peserta didik untuk tumbuh dan berkembang.
Namun, tantangan dunia pendidikan saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi dan arus digitalisasi turut membawa persoalan baru, termasuk kerentanan emosional dan persoalan psikologis yang dihadapi sebagian generasi muda.
Tidak sedikit siswa yang mampu menunjukkan prestasi akademik, tetapi menghadapi persoalan dalam mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, maupun beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian SMAN 1 Kontunaga. Dengan mengacu pada semangat pendampingan peserta didik sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 11 Tahun 2025, sekolah tersebut menghadirkan program “Guru Wali Hebat, Basmi Krisis Emosi Siswa"
Program ini mendorong perubahan peran guru wali agar tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan pendampingan personal kepada peserta didik.
Guru wali diharapkan menjadi sosok yang dekat dengan siswa, mengenali perkembangan mereka, mendengarkan persoalan yang dihadapi, serta memberikan pendampingan selama menjalani pendidikan di sekolah.
Dengan pola pendampingan tersebut, siswa diharapkan memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Kepala SMAN 1 Kontunaga, La Ode Nazirun, S.Pd., M.Pd., menegaskan komitmen sekolah untuk memberikan pendampingan secara menyeluruh kepada peserta didik.
“Bapak dan Ibu orang tua siswa, titipkanlah putra-putri tercinta kepada kami dengan ketenangan hati. Melalui program Guru Wali Hebat, kami berkomitmen untuk memberikan pendampingan kepada setiap anak dalam proses pencarian jati diri mereka,” ujarnya.
Menurutnya, siswa tidak hanya membutuhkan pembelajaran akademik, tetapi juga perhatian terhadap perkembangan karakter, mental, dan emosional.
“Di ruang-ruang kelas SMAN 1 Kontunaga, mereka bukan sekadar murid. Mereka adalah amanah yang harus kami jaga, kami dampingi, dan kami antarkan menuju masa depan dengan bekal karakter dan ketangguhan,” lanjutnya.
Program tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya sekolah menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam praktik pendidikan. Pancasila tidak hanya dipahami sebagai materi pembelajaran, tetapi diwujudkan melalui kepedulian, gotong royong, penghargaan terhadap keberagaman, serta kepedulian terhadap sesama.
SMAN 1 Kontunaga meyakini bahwa pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter harus berjalan beriringan dengan pencapaian akademik.
Melalui gerakan Guru Wali Hebat, sekolah berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan peserta didik, tetapi juga membantu mereka tumbuh sebagai pribadi yang memiliki karakter, ketahanan emosional, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Bagi sekolah, menanamkan Pancasila pada generasi muda bukan hanya tentang mengajarkan nilai-nilainya, melainkan menghadirkannya dalam tindakan nyata di ruang kelas dan kehidupan sehari-hari.

