KENDARI – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UHO, Fitriyah Nurainun Natiq Mapatarani, menyoroti tindakan Kapolres Bombana AKBP Eko Sutomo yang dinilai represif terhadap mahasiswa saat aksi unjuk rasa terkait kondisi infrastruktur jalan.
Peristiwa tersebut terekam dalam video yang kemudian beredar luas di media sosial. Aksi berlangsung di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Lauru, Kecamatan Rumbia Tengah, Kabupaten Bombana, pada Selasa (2/6/2026).
Dalam rekaman yang beredar, AKBP Eko Sutomo terlihat berada langsung di lokasi unjuk rasa dan naik ke atas mobil pikap yang digunakan massa sebagai kendaraan orasi.

Pada video itu, Kapolres tampak melakukan kontak fisik dengan salah seorang mahasiswa bernama Muhammad Ikbal dengan menarik kerah bajunya saat berada di atas kendaraan sebelum mahasiswa tersebut turun.
Selain itu, terdengar suara yang disebut berasal dari Kapolres dengan teriakan “Angkut, angkut” sambil menunjuk ke arah massa aksi.
Menanggapi insiden tersebut, Fitriyah Nurainun mengecam tindakan aparat kepolisian yang menurutnya tidak sejalan dengan tugas pengamanan dalam penyampaian aspirasi masyarakat.
“Mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan perbaikan infrastruktur jalan di wilayah Kecamatan Mata Oleo, tetapi justru mendapatkan perlakuan yang jauh dari semestinya dari aparat kepolisian,” ujar Ainun, Rabu (3/6/2026).
HMI Komisariat UMK Kendari Kecam Dugaan Tindakan Represif Kapolres Bombana terhadap Mahasiswa
Ainun yang juga merupakan mahasiswa asal Kabupaten Bombana meminta agar Kapolres Bombana dievaluasi dan dicopot dari jabatannya.
“Pernyataan kami tegas dan tanpa kompromi, copot segera Kapolres Bombana dari jabatannya sebelum satu tindakan yang dinilai arogan ini mencederai wibawa institusi yang seharusnya melindungi masyarakat,” tegasnya.
