Dari Ramadan ke Lebaran: Perjalanan Menaklukkan Hawa Nafsu

Ilustrasi Ramadan. Foto: Istimewa
Penulis: Redaksi
Minggu, 22 Maret 2026 | 00:39:09 WIB

OPINI - Hari itu akhirnya tiba, hari yang lama dinanti, ketika waktu seolah melambat untuk memberi ruang bagi manusia kembali menengok dirinya sendiri.

Sebulan telah berlalu. Sebulan menahan lapar, dahaga, amarah, dan segala yang bergejolak di dalam dada. Sebulan melatih diri untuk tidak selalu menuruti keinginan, untuk belajar cukup, belajar sabar.

Malam Lebaran datang dengan gema takbir yang mengalun dari segala penjuru. Dari surau kecil di sudut kampung hingga masjid megah di jantung kota.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. La ilaha illallah, Allahu Akbar. Allahu Akbar wa lillahil hamd.”

Suara-suara itu berlapis, saling menyahut, seperti gelombang yang tak pernah benar-benar reda. Ia menggetarkan, bukan hanya udara, tetapi juga ruang-ruang sunyi di dalam jiwa.

Di sanalah manusia berdiri, di antara kemenangan dan pertanyaan. Apakah yang ditaklukkan benar-benar telah jinak? Ataukah ia hanya diam, menunggu waktu untuk kembali mengambil alih?

Hawa nafsu, yang tak pernah tampak, selalu menemukan jalannya. Ia menyusup dalam keinginan-keinginan kecil, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Ia hadir dalam pilihan, dalam sikap, dalam cara manusia memperlakukan sesamanya.

Ramadan mengajarkan cara menahannya. Bukan dengan melawan keras, melainkan dengan kesadaran. Dengan menunda, mengendalikan, dan pada akhirnya memahami.

Lebaran menjadi jeda. Sebuah garis tipis antara yang telah dilalui dan yang akan datang.

Di hari itu, manusia saling menatap, saling menggenggam tangan, mengucap maaf dengan suara yang kadang bergetar. Ada yang tulus, ada pula yang masih belajar tulus.

Namun, di situlah maknanya, bahwa menjadi kembali bukanlah proses yang selesai dalam semalam.

Kemenangan tidak selalu riuh. Ia bisa hadir dalam diam, dalam hati yang sedikit lebih lapang, dalam amarah yang tak lagi mudah meledak, dalam langkah yang mulai berhati-hati.

Lebaran, pada akhirnya, bukan hanya tentang kembali ke fitrah. Ia adalah tentang usaha yang terus diulang, untuk menjadi manusia, sekali lagi, dengan cara yang lebih baik.

Reporter: Redaksi